11 Cara Menentukan Target Pasar yang Tepat Sebelum Memulai Bisnis


Menentukan target pasar merupakan salah satu langkah penting sebelum memulai bisnis. Banyak orang langsung memikirkan produk, harga, logo, tempat usaha, atau strategi promosi tanpa terlebih dahulu memastikan siapa calon pelanggan yang ingin dituju.


Padahal, target pasar akan memengaruhi hampir seluruh keputusan bisnis. Mulai dari jenis produk yang dibuat, harga yang ditawarkan, cara berkomunikasi, media promosi, lokasi usaha, hingga bentuk pelayanan kepada pelanggan.

Target pasar yang tepat bukan berarti harus memilih sebanyak mungkin orang. Justru semakin jelas karakter calon pelanggan yang dituju, semakin mudah sebuah bisnis menyusun penawaran yang relevan. Dengan target yang spesifik, biaya promosi juga dapat digunakan dengan lebih terarah.

Misalnya, seseorang ingin menjual makanan sehat. Target pasarnya tentu dapat dipersempit menjadi pekerja kantoran yang memiliki aktivitas padat, mahasiswa yang ingin menjaga pola makan, ibu muda, atau masyarakat yang sedang menjalani gaya hidup sehat. Setiap kelompok memiliki kebutuhan, kemampuan membeli, dan kebiasaan yang berbeda.

Karena itu, sebelum mengeluarkan modal besar, lakukan beberapa langkah berikut untuk menentukan target pasar yang paling sesuai.

Cara Menentukan Target Pasar yang Tepat 

1. Tentukan Masalah yang Ingin Diselesaikan

Cara pertama adalah mencari tahu masalah apa yang ingin diselesaikan oleh bisnis Anda. Jangan hanya berangkat dari pertanyaan, “Apa yang ingin saya jual?” tetapi ubah menjadi, “Masalah apa yang bisa saya bantu selesaikan?”

Produk atau jasa yang baik biasanya memiliki hubungan dengan kebutuhan tertentu. Contohnya, bisnis makanan siap saji dapat menyelesaikan masalah orang yang tidak memiliki banyak waktu untuk memasak. Jasa kebersihan dapat membantu pemilik rumah atau kantor yang tidak sempat melakukan pekerjaan tersebut sendiri.

Tuliskan minimal tiga sampai lima masalah yang mungkin dialami calon pelanggan. Setelah itu, tentukan masalah mana yang paling sering terjadi dan memiliki kemungkinan untuk menghasilkan transaksi.

Anda dapat melakukan wawancara sederhana kepada calon pelanggan. Tanyakan apa kesulitan mereka, bagaimana mereka menyelesaikan masalah tersebut sekarang, berapa biaya yang biasa dikeluarkan, dan apa yang membuat mereka tidak puas dengan solusi yang sudah tersedia.

Semakin jelas masalah yang hendak diselesaikan, semakin mudah menentukan siapa orang yang paling membutuhkan produk atau jasa Anda.

2. Tentukan Siapa yang Paling Membutuhkan Produk

Setelah mengetahui masalah yang ingin diselesaikan, tentukan kelompok orang yang paling membutuhkan solusi tersebut.

Jangan langsung menggunakan target terlalu luas seperti “semua orang”, “masyarakat umum”, atau “pengguna internet”. Target seperti itu terlalu besar sehingga sulit digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.

Cobalah membuat pertanyaan sederhana:

  • Siapa yang paling sering mengalami masalah tersebut?
  • Siapa yang paling membutuhkan solusi?
  • Siapa yang memiliki kemampuan membeli?
  • Siapa yang kemungkinan besar akan mencari produk tersebut?
  • Siapa yang bersedia membayar untuk mendapatkan solusi?

Misalnya Anda menjual pupuk tanaman dalam kemasan kecil. Target yang mungkin lebih spesifik adalah penghobi tanaman rumahan, pemilik kebun kecil, atau orang yang memiliki tanaman hias di halaman rumah.

Dengan mempersempit kelompok calon pelanggan, Anda akan lebih mudah membuat produk, konten, dan promosi yang sesuai.

3. Buat Profil Demografis Calon Pelanggan

Langkah berikutnya adalah menentukan karakteristik demografis calon pelanggan. Data demografis membantu Anda menggambarkan siapa orang yang kemungkinan besar membeli produk.

Beberapa data yang dapat digunakan antara lain usia, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendapatan, pendidikan, status pernikahan, dan lokasi tempat tinggal.

Tidak semua bisnis membutuhkan seluruh data tersebut. Pilih informasi yang memang berhubungan dengan produk.

Contohnya, bisnis perlengkapan bayi tentu lebih relevan menyasar orang tua atau calon orang tua dibandingkan seluruh kelompok usia. Sementara jasa kursus profesional mungkin lebih cocok diarahkan kepada pekerja, mahasiswa tingkat akhir, atau pemilik bisnis.

Buat profil sederhana. Misalnya:

Usia: 25–40 tahun
Pekerjaan: karyawan dan pengusaha kecil
Lokasi: kota besar
Pendapatan: menengah
Kebutuhan: produk praktis dan menghemat waktu

Profil tersebut akan membantu Anda menentukan cara menawarkan produk kepada calon pelanggan.

4. Kenali Lokasi Target Pasar

Lokasi juga perlu diperhatikan karena kebutuhan dan perilaku konsumen dapat berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.

Jika bisnis Anda berbasis lokal, tentukan wilayah yang ingin dijangkau. Bisa berupa satu kelurahan, kecamatan, kota, provinsi, atau bahkan beberapa wilayah sekaligus.

Perhatikan jumlah calon pelanggan, tingkat aktivitas ekonomi, akses transportasi, kebiasaan masyarakat, dan keberadaan pesaing.

Untuk bisnis online, lokasi tetap dapat digunakan sebagai salah satu parameter. Misalnya, Anda menawarkan jasa yang hanya bisa dikerjakan secara langsung di Pekanbaru. Dalam kondisi tersebut, target pasar sebaiknya difokuskan terlebih dahulu pada masyarakat di wilayah yang dapat dilayani.

Penentuan lokasi yang tepat membantu menghindari promosi kepada orang yang sebenarnya tidak dapat membeli atau menggunakan produk.

5. Pelajari Kemampuan Membeli Calon Pelanggan

Jumlah orang yang membutuhkan produk belum tentu sama dengan jumlah orang yang mampu membelinya.

Karena itu, kemampuan membeli perlu dianalisis sebelum menentukan target pasar.

Perhatikan kisaran pendapatan, pengeluaran, kebiasaan belanja, serta harga produk sejenis yang biasa dibeli oleh calon pelanggan.

Misalnya, Anda menjual produk dengan harga Rp500.000. Target pasar yang memiliki kebutuhan tersebut tetapi rata-rata hanya mampu mengalokasikan Rp100.000 mungkin bukan target utama.

Bukan berarti kelompok tersebut tidak boleh menjadi pelanggan. Namun, Anda perlu mempertimbangkan apakah produk dapat dibuat dalam beberapa pilihan harga atau paket.

Mengenali kemampuan membeli juga membantu menentukan positioning produk. Anda dapat memilih menawarkan produk ekonomis, menengah, atau premium sesuai kondisi pasar yang dituju.

6. Cari Tahu Kebiasaan dan Perilaku Konsumen

Target pasar tidak cukup ditentukan berdasarkan usia dan pendapatan. Anda juga perlu memahami bagaimana mereka mengambil keputusan pembelian.

Cari tahu tempat mereka mencari informasi, media sosial yang digunakan, jenis konten yang disukai, bagaimana mereka membandingkan produk, serta faktor apa yang membuat mereka percaya kepada sebuah bisnis.

Misalnya, calon pelanggan mungkin terbiasa mencari ulasan di Google sebelum membeli. Ada juga yang lebih percaya rekomendasi teman, video demonstrasi, testimoni, atau konten edukasi.

Perilaku tersebut dapat diketahui melalui observasi, wawancara, survei, komentar di media sosial, marketplace, forum, dan berbagai sumber lain yang relevan.

Informasi perilaku konsumen akan membantu Anda menentukan bukan hanya “siapa yang ditarget”, tetapi juga “bagaimana cara menjangkau mereka”.

Untuk memahami bagaimana pasar lokal dan karakteristik konsumen dapat memengaruhi keputusan bisnis, Anda juga dapat melihat pembahasan mengenai analisis potensi pasar lokal dalam bisnis.

7. Tentukan Kebutuhan dan Prioritas Utama Pelanggan

Setiap konsumen memiliki banyak kebutuhan, tetapi biasanya ada satu atau beberapa kebutuhan yang menjadi alasan utama mereka membeli.

Tugas Anda adalah menemukan kebutuhan yang paling penting tersebut.

Misalnya, seseorang membeli jasa desain website. Apa yang sebenarnya dicari? Bisa saja bukan sekadar website, tetapi tampilan profesional, kemudahan mendapatkan pelanggan, kecepatan pembuatan, atau bantuan setelah website selesai.

Lakukan riset dengan pertanyaan seperti:

“Hal apa yang paling penting ketika Anda memilih produk ini?”

“Apa yang membuat Anda memilih satu produk dibandingkan produk lainnya?”

“Masalah apa yang paling ingin Anda hindari?”

Jawaban tersebut dapat digunakan untuk menentukan prioritas target pasar.

Jika mayoritas calon pelanggan mengutamakan harga murah, strategi produk akan berbeda dengan pasar yang lebih mengutamakan kualitas premium.

8. Amati Kompetitor untuk Menemukan Celah Pasar

Mempelajari kompetitor bukan berarti harus meniru mereka. Tujuannya adalah mengetahui siapa yang sudah dilayani dan bagian mana yang masih memiliki peluang.

Identifikasi beberapa bisnis yang menjual produk serupa. Perhatikan siapa pelanggan mereka, harga yang ditawarkan, produk yang tersedia, cara promosi, kualitas pelayanan, serta keluhan pelanggan.

Baca komentar dan ulasan konsumen apabila tersedia. Keluhan yang muncul berulang kali dapat menjadi petunjuk adanya kebutuhan yang belum dilayani dengan baik.

Misalnya, sebagian konsumen mengeluhkan proses pemesanan yang rumit. Anda dapat menjadikan kemudahan pemesanan sebagai bagian dari nilai bisnis.

Atau pelanggan menginginkan produk lebih cepat sampai. Anda dapat menjadikan kecepatan pengiriman sebagai salah satu keunggulan.

Cara ini membantu Anda menemukan kelompok pelanggan yang mungkin belum mendapatkan pelayanan secara optimal.

9. Uji Target Pasar dalam Skala Kecil

Jangan langsung mengeluarkan modal besar hanya berdasarkan asumsi. Setelah menentukan target pasar, lakukan pengujian terlebih dahulu.

Anda dapat membuat sampel produk, menawarkan layanan dalam jumlah terbatas, membuat halaman promosi, menjalankan iklan dengan anggaran kecil, atau melakukan pre-order.

Tujuannya adalah melihat respons nyata dari calon pelanggan.

Perhatikan beberapa indikator seperti jumlah orang yang bertanya, jumlah orang yang melakukan pembelian, produk yang paling banyak diminati, pertanyaan yang paling sering muncul, serta alasan calon pelanggan menolak membeli.

Data tersebut jauh lebih berguna dibandingkan sekadar perkiraan pribadi.

Jika hasil pengujian menunjukkan bahwa target pasar pertama kurang responsif, jangan langsung menganggap produk gagal. Bisa jadi target pasarnya yang belum tepat, pesan promosinya kurang sesuai, atau penawarannya perlu diperbaiki.

10. Buat Persona Pelanggan yang Spesifik

Setelah mendapatkan data, susun customer persona. Persona adalah gambaran calon pelanggan ideal yang dibuat berdasarkan karakteristik dan kebutuhan nyata.

Contohnya:

Nama persona: Rina
Usia: 32 tahun
Pekerjaan: Karyawan
Lokasi: Kota besar
Pendapatan: Menengah
Masalah: Tidak punya banyak waktu
Kebutuhan: Produk praktis
Kebiasaan: Aktif mencari informasi melalui media sosial
Pertimbangan membeli: Harga, kualitas, kemudahan, dan ulasan pelanggan

Persona seperti ini membuat proses pemasaran menjadi lebih konkret.

Ketika membuat iklan, Anda tidak lagi berpikir “Saya harus menjual kepada semua orang.” Anda dapat membayangkan kebutuhan Rina dan menyusun pesan yang benar-benar relevan.

Persona juga dapat digunakan oleh tim bisnis agar semua orang memiliki pemahaman yang sama tentang pelanggan yang hendak dilayani.

11. Evaluasi dan Persempit Target Pasar Secara Berkala

Menentukan target pasar bukan pekerjaan yang selesai dalam satu hari. Setelah bisnis berjalan, Anda perlu mengevaluasi apakah pelanggan yang datang sesuai dengan target yang telah dibuat.

Perhatikan data penjualan, produk yang paling banyak dibeli, lokasi pelanggan, pertanyaan pelanggan, sumber traffic, respons promosi, dan tingkat pembelian ulang.

Dari data tersebut, Anda mungkin menemukan bahwa pelanggan terbaik ternyata berasal dari kelompok yang lebih spesifik.

Contohnya, awalnya Anda menargetkan semua pemilik tanaman. Setelah beberapa bulan, ternyata sebagian besar pembeli berasal dari penghobi tanaman hias berusia 25–40 tahun yang membeli produk melalui media sosial.

Informasi tersebut dapat digunakan untuk mempersempit target pasar.

Target yang semakin jelas memungkinkan anggaran pemasaran digunakan dengan lebih efisien. Konten juga dapat dibuat lebih spesifik karena Anda mengetahui kebutuhan audiens.

Untuk bisnis yang sedang berkembang, riset pasar lokal juga penting dilakukan

Kesimpulan

Menentukan target pasar yang tepat sebelum memulai bisnis membantu Anda memahami siapa calon pelanggan yang paling membutuhkan produk atau jasa yang ditawarkan. 

Prosesnya dapat dilakukan dengan mengenali masalah pelanggan, menentukan karakteristik demografis, memahami lokasi dan kemampuan membeli, mempelajari perilaku konsumen, mengamati kompetitor, menguji pasar dalam skala kecil, hingga mengevaluasi hasilnya secara berkala. 

Dengan target pasar yang jelas dan berdasarkan data, Anda dapat menyusun produk, harga, promosi, serta strategi pemasaran dengan lebih terarah sehingga penggunaan modal dan tenaga menjadi lebih efektif serta peluang mendapatkan pelanggan yang sesuai semakin besar.

Baca Juga : Cara Sukses Memulai Bisnis Franchise dengan Modal Terjangkau